Selasa, 03 Maret 2015

Laporan DKP Kaltim



BAB V
PEMBAHASAN

5.1   Gambaran Umum
Program pembangunan dibidang kesehatan yang telah dilaksanakan selama periode tahun 2000 - 2004 adalah Program Peningkatan Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan. Hasil Pelaksanaan Program tersebut dapat ditujukan pada pencapaian kinerja sasaran pembangunan dibidang kesehatan yaitu meningkatnya kondisi status kesehatan warga kota.
Kesehatan adalah salah satu kebutuhan pokok dan juga merupakan faktor penting yang mempengaruhi produktivitas dan kualitas sumber daya manusia. Dalam Undang-undang Dasar 1945 pasal 28 H dan Undang-undang nomor 36 tahun 2009 menetapkan bahwa kesehatan adalah hak fundamental setiap warga. Oleh karena itu negara bertanggung jawab dalam pengaturan hak hidup sehat bagi penduduknya. Pembangunan Kesehatan adalah pembangunan manusia seutuhnya dimana faktor kesehatan turut berperan mulai dari pra konsepsi, bayi, balita, remaja, dewasa hingga usia lanjut. Umumnya tujuan pembangunan kesehatan adalah meningkatnya pelayanan kesehatan secara bermutu, merata dan terjangkau, tersedianya sumber daya kesehatan yang berkualitas, dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, dan terwujudnya kesamaan persepsi dan kesadaran serta komitmen stakeholder terhadap aspek kesehatan dalam seluruh kegiatan pembangunan.
Sejak diberlakukannnya otonomi daerah hingga saat ini, komitmen pemerintah daerah terhadap pembangunan kesehatan terlihat meningkat secara signifikan. Salah satu grand strategi Departemen Kesehatan dalam rangka mencapai tujuan Indonesia Sehat adalah meningkatkan sistem surveilans, monitoring dan informasi kesehatan.
Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur adalah unsur pelaksana pemerintah provinsi yang memiliki tugas pokok melaksanakan kewenangan desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas pembantuan di bidang kesehatan.

5.2 Deskripsi Wilayah
Kalimantan Timur adalah wilayah yang berstatus provinsi di Indonesia. Kalimantan Timur merupakan provinsi terluas kedua di Indonesia dengan luas wilayah 245.237,80 km2 atau sekitar satu setengah kali Pulau Jawa dan Madura atau 11% dari total luas wilayah Indonesia. Wilayah provinsi Kalimantan timur dibagi menjadi 10 Kabupaten dan 4 kota yaitu: Kabupaten Berau, Kabupaten Bulungan, Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, Kabupaten Paser, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kabupaten Tana Tidung, Kota Balikpapan, Kota Bontang, Kota Samarinda dan Kota Tarakan.
Kota Samarinda adalah salah satu kota sekaligus merupakan ibu kota provinsi Kalimantan Timur, Indonesia sehingga menjadi pusat kegiatan pemerintah Kalimantan Timur dan Dinas Kesehatan Provinsi terletak di Kota Samarinda. Seluruh wilayah kota ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Kartanegara. Kota Samarinda dapat dicapai dengan perjalanan darat, laut dan udara. dengan Sungai Mahakam yang membelah di tengah Kota Samarinda, yang menjadi "gerbang" menuju pedalaman Kalimantan Timur. Kota ini memiliki luas wilayah 718 km², Samarinda terletak di wilayah khatulistiwa dengan koordinat di antara 0°21'81"–1°09'16" LS dan 116°15'16"–117°24'16" BT, kota Samarinda beriklim tropis basah, hujan sepanjang tahun. Temperatur udara antara 20 °C – 34°C dengan curah hujan rata-rata per tahun 1980 mm, sedangkan kelembaban udara rata-rata 85% dan berpenduduk 726.223 jiwa (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010), menjadikan kota ini berpenduduk terbesar di seluruh Kalimantan.

5.3 Struktur Organisasi Dinas Kesehatan dan Program
Struktur organisasi pada umumnya digambarkan dalam suatu bagan yang disebut bagan organisasi. Bagan organisasi merupakan gambar struktur organisasi yang formal, dimana dalam gambar tersebut terdapat garis-garis (instruksi dan koordinasi) yang menunjukkan kewenangan dan hubungan komunikasi formal yang tersusun secara hierarkis (Azwar,1996). Berdasarkan struktur organisasi Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur yang telah disampaikan dalam bab sebelumnya, maka dapat diketahui bahwa, struktur organisasi Dinas Kesehatan Kota Samarinda berbentuk line dan staf.
Organisasi Lini dan Staf merupakan gabungan kedua jenis organisasi line dan staf. Dalam organisasi ini staf bukan sekedar pelaksana tugas tetapi juga diberikan wewenang untuk memberikan masukan demi tercapainya tujuan secara baik. Demikian juga pimpinan tidak sekedar memberikan perintah atau nasehat tetapi juga bertanggung jawab atas perintah atau nasehat tersebut. Keuntungan organisasi ini antara lain ialah keputusan yang diambil oleh pimpinan lebih baik karena telah dipikirkan oleh sejumlah orang dan tanggung jawab pimpinan berkurang karena mendapat dukungan dan bantuan dari staf.
Dari struktur organisasi Dinas Kesehatan dapat dilihat bahwa kepala Dinas membawahi sekretariat, empat bidang operasional yaitu bidang sumber daya kesehatan, bidang pelayanan kesehatan, bidang kesehatan masyarakat dan bidang pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan. Pada setiap bidang membawahi masing-masing tiga seksi. Serta membawahi kelompok jabatan fungsional.
Di bidang Sumber Daya Kesehatan membawahi seksi jaminan kesehatan, seksi tenaga dan sarana serta seksi farmasi dan alat kesehatan.
Di bidang Pelayanan Kesehatan membawahi seksi kesehatan dasar dan rujukan, seksi kesehatan khusus dan seksi kesehatan daerah terpencil, perbatasan dan keluarga miskin.
Di bidang Kesehatan Masyarakat membawahi seksi kesehatan keluarga, seksi promosi kesehatan dan pemberdayaan serta seksi gizi.
Di bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan membawahi seksi pengendalian penyakit menular, seksi pengendalian penyakit tidak menular dan bencana serta seksi penyehatan lingkungan.
Pada Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur terdapat 4 Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) yaitu UPTD Balai Laboratorium Kesehatan Daerah, UPTD Balai Pelatihan Kesehatan, UPTD Balai Kesehatan Mata dan Olahraga Masyarakat serta UPTD Akademi Keperawatan Pemda Provinsi Kalimantan Timur.
Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur menjalankan program yang sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat secara berkesinambungan antara lain program upaya kesehatan masyarakat, program standarisasi pelayanan kesehatan, program pencegahan dan penanggulangan penyakit menular, program pengembangan lingkungan sehat, program promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat, program perbaikan gizi masyarakat, program obat dan perbekalan kesehatan, program peningkatan kapasitas sumber daya aparatur/sumber daya kesehatan, program fasilitas pindah/purna tugas PNS, program kebijakan manajemen pembangunan kesehatan, program kemitraan peningkatan pelayanan kesehatan dan program peningkatan pengembangan system pelaporan capaian kinerja dan keuangan.

5.4 Wilayah Kerja
Wilayah kerja merupakan daerah-daerah yang menjadi batas dalam sebuah instansi pekerjaan atau perusahaan. Wilayah kerja Dinas Kesehatan terbagi kedalam batas-batas wilayah suatu daerah dimana Dinas Kesehatan itu ada (Azwar, 1996).
Berdasarkan kunjungan yang telah dilakukan, sarana kesehatan yang tersedia di wilayah kerja Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur antara lain rumah sakit 47 buah, puskesmas 214 buah, puskesmas pembantu 774 buah, posyandu 4717 buah, polindes 310 buah dan poskesdes 494 buah.

ini tugas dari salah satu dosen tentang beberapa zat kimia diperusahaan. dikerjakan secara profesional dan apik. semoga bermanfaat untuk pembaca  



NIKEL


Sifat Fisika
Berwarna putih keperak-perakan sifat kuat, dapat ditempa, serta tahan terhadap karat, tahan terhadap oksida, sedikit ferromagnetis, dan merupakan konduktor yang agak baik terhadap panas dan listrik.
Sifat Kimia
Massa jenis (sekitar suhu kamar) 8,908 g/cm³, Massa jenis cair pada titik lebur 7,81 g/cm³, Titik lebur 1728 K, (1455 °C, 2651 °F), Titik didih 3186 K (2913 °C, 5275 °F).
1.Pada suhu kamar, reaksi dengan udara lambat
2.Jika dibakar, reaksi berlangsung cepat membentuk oksida NiO
3.Dengan Cl2 membentuk Klorida (NiCl2)
4.Dengan steam H2O membentuk Oksida NiO
5.Dengan HCl encer dan asam sulfat encer, reaksi berlangsung lambat
6.Dengan asam nitrat dan aquaregia, Ni segera larut
 Ni(NO3)2 + NO + H2O
àNi + HNO3
7.Tidak beraksi dengan basa alkali
8.Bereaksi dengan H2S menghasilkan endapan hitam
9.Dalam larutan akuatik Ni[H2O]62+hijau
Ditemukan pada
Terbentuk di kerak bumi dan tersebar di lingkungan. Diproduksi dari bijih nikel, hasil dari peleburan/daur ulang besi. Salah satu sumber terbesar Ni di atmosfer berasal dari hasil pembakaran bahan bakar minyak (BBM), pertambangan, penyulingan minyak, serta incenerator. Sumber Ni di air berasal dari lumpur limbah, limbah cair dari “Sewage Treatment Plant, dan air tanah di dekat lokasi landfill.
Kegunaan
Nikel digunakan secara besar-besaran untuk pembuatan baja tahan karat dan alloy lain yang bersifat tahan korosi, seperti Invar, Monel, Inconel dan Hastelloys. Alloy tembaga-nikel berbentuk tabung banyak digunakan untuk pembuatan instalasi proses penghilangan garam untuk mengubah air laut menjadi air segar.
Nikel, digunakan untuk membuat uang koin, dan baja nikel untuk melapisi senjata dan ruangan besi (deposit di bank), dan nikel yang sangat halus, digunakan sebagai katalis untuk menghidrogenasi minyak sayur (menjadikannya padat). Nikel juga digunakan dalam keramik, pembuatan magnet Alnico dan baterai penyimpanan Edison.
Kadar Maksimal
Pembuangan limbah yang mengandung Ni mengakibatkan pencemaran Ni pada tanah, air, dan tanaman. Total Ni dalam tanah bisa mencapai 5-500 ppm, sedangkan kadar Ni pada air tanah mencapai 0,005-0,05 ppm dan kadar Ni pada tumbuhan tidak lebih dari 1 ppm.
Kadar maksimum nikel yang diperbolahkan pada air minum menurut Permenkes No 492 tahun 2010 adalah sebesar 0,07 mg/liter. Dan kadar maksimum baku mutu air limbah bagi kawasan industri menurut Permenlh Nomor 3 tahun 2010 adalah sebesar 0,5 mg/liter.
Toksikenetika
Ni diabsorpsi dalam jumlah kecil dari alat pencernaan. Ni kemudian ditransportasikan dalam plasma berikatan dengan albumin, asam amino, dan polipeptida. Ekskresi Ni terjadi melalui urin setelah 4-5 hari terpapar Ni.
Paparan Ni per oral sebagian besar akan diekskresikan melalui feses. Absorbsi Ni dalam makanan adalah sebesar 1-10 %. Ekskresi Ni dalam feses akan meningkat sesuai dengan peningkatan intake Ni dalam makanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian Ni secara intravena akan menyebabkan Ni diekskresi terutama melalui urin.
Pemberian Ni secara parenteral pada hewan uji menunjukkan bahwa Ni secara cepat didistribusikan ke ginjal, kelenjar pituitari, paru-paru, kelenjar adrenal, ovarium, dan testis.
Meningkatnya konsumsi makanan yang mengandung Ni mengakibatkan meningkatnya sensifitas dermatitis serta meningkatnya kadar Ni dalam urin. Untuk mengetahui adanya paparan Ni, dapat dilakukan analisis terhadap kadar Ni dalam darah, urin, feses dan rambut.
Dampak Kesehatan
A.    Paparan Lewat Kontak Kulit
Kontak Ni dengan kulit bisa mengakibatkan terjadinya dermatitis nikel, gatal pada jari-jari, gatal pada tangan dan lengan, serta alergi kulit. Kadar Ni dalam darah dipengaruhi oleh paparan Ni dan ditentukan oleh ada atau tidaknya terapi chelate. Apabila tidak ada terapi, kadar Ni dalam darah tentu akan lebih tinggi.
B.     Gangguan Reproduksi
Pada hewan uji, diketahui bahwa paparan per oral dari garam Ni bisa mengakibatkan penurunan jumlah anak yang hidup per kelahiran sera penurunan berat badan fetus. Paparan nikel nitrat per oral serta nikel oksida secara inhalasi pada hewan uji bisa mengakibatkan penurunan jumlah sperma dan meningkatkan jumlah sperma abnormal (US Environmental Protection Agency, 2000).
C.    Karsinogenitas
Logam nikel dan senyawa nikel merupakan bahan karsinogenik. Inhalasi debu mengandung Ni-sulfida. Ni-subsulfida dapat mengakibatkan kanker paru-paru, kanker rongga hidung, kanker pita suara, bahkan dapat mengakibatkan kematian. Nikel merupakan bahan karsinogenik alat respirasi, terutama bagi pekerja di industri pemurnian nikel. Pekerja yang terpapar Ni ditempat kerja selama 40 tahun bisa mengalami kanker paru-paru dan kanker nasal.
Pencegahan dan Pengendalian
1. Secara teknis
a. Subtitusi
Pengendalian subtitusi ini dengan menggunakan earphone
b. Eliminasi
Pengendalian secara eliminasi ini dengan penarikan Hp berbahan nikel di pasaran
2. Secara Administrasi
a. Melarang masuknya Handphone berbahan nikel di pasar
b. Meningkatkan pengawasan terhadap beredarnya hand phone berbahan nikel
3. Penggunaan APD
a. Menggunakan penutup kepala (jilbab bagi wanita muslim)
b. Menggunakan earphone
c. Menggunakan sarung Handphone
 

FLU BURUNG

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Virus H5N1 merupakan jenis virus flu burung yang sangat ganas, yang menjadi penyebab utama penyakit pada unggas. Virus ini pernah ditemukan juga pada babi dan kucing, tetapi tidak menimbulkan gejala sakit pada hewan tersebut. Sampai dengan saat ini, belum ditemukan bukti ilmiah bahwa kedua jenis hewan tersebut bertindak sebagai sumber penularan virus H5N1.
Pada kasus yang langka, penyakit ini juga dapat menyebar pada manusia. Kasus infeksi virus H5N1 pada manusia yang pertama kali tercatat, terjadi di Hong Kong pada tahun 1997, ketika virus H5N1 yang menyebabkan penyakit pernafasan sangat berat tersebut menyerang 18 orang, 6 di antaranya meninggal. Virus ini kemudian dapat dikendalikan dan kasus infeksi pada manusia lenyap tanpa dapat terdeteksi selama beberapa tahun, sampai timbul kembali di Asia pada tahun 2003. Sejak saat itu, virus tersebut kembali terdeteksi di banyak negara serta menyebabkan penyakit bahkan tingginya tingkat kematian pada jutaan unggas. Lebih dari 140 orang meninggal karena penyakit ini. Kasus pertama pada unggas di Indonesia diidentifikasikan di dua kabupaten yaitu Pekalongan dan Tangerang pada bulan Agustus 2003, sementara kasus pertama pada manusia terjadi di Kabupaten Tangerang pada bulan Juli 2005.
Saat ini virus H5N1 tidak mudah menyebar dari unggas ke manusia, atau dari manusia ke manusia. Akan tetapi, kejadian yang terus berulang oleh virus H5N1 pada unggas dan manusia meningkatkan kemungkinan terjadinya virus baru yang dapat menular dari manusia ke manusia, yang berpotensi memicu pandemi di seluruh dunia. Pemerintah Indonesia, World Health Organizaton (WHO), Food and Agriculture Organization (FAO), dan badan internasional lainnya serta mitra lokal bekerja sama untuk mengendalikan virus H5N1 dan mencegah pandemi pada manusia.
1.2 Tujuan
            - Mengetahui Sumber dan cara penularan flu burung
- Mengetahui gejala dan perawatan pra dan pasca seseorang menderita flu burung
            - Mengetahui awal wabah dan cara penanggulangannya













BAB II
PEMBAHASAN
Penyakit flu burung atau flu unggas (Bird Flu, Avian influenza) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A dan ditularkan oleh unggas. Penyakit flu burung yang disebabkan oleh virus avian infuenza jenis H5N1 pada unggas di konfirmasikan telah terjadi di Republik Korea, Vietnam, Jepang, Thailand, Kamboja, Taiwan, Laos, China, Indonesia dan Pakistan. Sumber virus diduga berasal dari migrasi burung dan transportasi unggas yang terinfeksi.
Di Indonesia pada bulan Januari 2004 di laporkan adanya kasus kematian ayam ternak yang luar biasa (terutama di Bali, Botabek, Jawa Timur, Jawa Tengah,Kalimantan Barat dan Jawa Barat). Awalnya kematian tersebut disebabkan oleh karena virus new castle, namun konfirmasi terakhir oleh Departemen Pertanian disebabkan oleh virus flu burung (Avian influenza (AI)). Jumlah unggas yang mati akibat wabah penyakit flu burung di 10 propinsi di Indonesia sangat besar yaitu 3.842.275 ekor (4,77%) dan yang paling tinggi jumlah kematiannya adalah propinsi Jawa Barat (1.541.427 ekor). Pada bulan Juli 2005, penyakit flu burung telah merenggut tiga orang nyawa warga Tangerang Banten, Hal ini didasarkan pada hasil pemeriksaan laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Depkes Jakarta dan laboratorium rujukan WHO di Hongkong.
Sumber penularan
Penyebab flu burung adalah virus influensa tipe A yang menyebar antar unggas. Virus ini kemudian ditemukan mampu pula menyebar ke spesies lain seperti babi, kucing, anjing, harimau, dan manusia.

Virus influensa tipe A memiliki beberapa subtipe yang ditandai adanya Hemagglutinin (H) dan Neuramidase (N). Ada 9 varian H dan 14 varian N. Virus flu burung yang sedang berjangkit saat ini adalah subtipe H5N1 yang memiliki waktu inkubasi selama 3-5 hari.
Cara penularan
Burung liar dan unggas domestikasi (ternak) dapat menjadi sumber penyebar H5N1. Di Asia Tenggara kebanyakan kasus flu burung terjadi pada jalur transportasi atau peternakan unggas alih-alih jalur migrasi burung liar.
Virus ini dapat menular melalui udara ataupun kontak melalui makanan, minuman, dan sentuhan. Namun demikian, virus ini akan mati dalam suhu yang tinggi. Oleh karena itu daging, telur, dan hewan harus dimasak dengan matang untuk menghindari penularan. Kebersihan diri perlu dijaga pula dengan mencuci tangan dengan antiseptik. Kebersihan tubuh dan pakaian juga perlu dijaga.
Virus dapat bertahan hidup pada suhu dingin. Bahan makanan yang didinginkan atau dibekukan dapat menyimpan virus. Tangan harus dicuci sebelum dan setelah memasak atau menyentuh bahan makanan mentah.
Unggas sebaiknya tidak dipelihara di dalam rumah atau ruangan tempat tinggal. Peternakan harus dijauhkan dari perumahan untuk mengurangi risiko penularan.
Tidak selamanya jika tertular virus akan menimbulkan sakit. Namun demikian, hal ini dapat membahayakan di kemudian hari karena virus selalu bermutasi sehingga memiliki potensi patogen pada suatu saat. Oleh karena itu, jika ditemukan hewan atau burung yang mati mendadak pihak otoritas akan membuat dugaan adanya flu burung. Untuk mencegah penularan, hewan lain di sekitar daerah yang berkasus flu burung perlu dimusnahkan.dan dicegah penyebarannya.
Flu burung terdengar sangat mengerikan, mengingat banyak korban jiwa yang sudah jatuh karenanya. Mengetahui tentang mekanisme penularan sebuah penyakit akan membuat kita jauh lebih waspada akan penyakit tersebut. Dengan mengetahui secara detail tentang penularan penyakit flu burung, kita akan bisa mengetahui cara-cara untuk menghindarinya dengan tepat, tanpa membuat aksi yang berlebihan. Berikut ini cara-cara penularan flu yang disebabkan oleh virus H5N1 ini.
Secara garis besar, kita pasti mengetahui bahwa kontak langsung dengan sumber penyakit akan membuat kita terjangkit. Hal yang sama juga berlaku pada penyakit flu burung. Berdasarkan pendapat para ahli, disimpulkan bahwa vektor utama penyakit ini adalah unggas. Bersentuhan langsung dengan unggas yang sakit, atau produk dari unggas sakit tersebut akan membuat Anda tertular. Pencegahan yang dilakukan hanya bisa dilakukan dengan membakar bangkai hewan tersebut. Akan tetapi, metode pembakaran yang digunakan harus tepat guna mencegah asap dan material lain tersebar ke tempat lain. Material-material tersebut masih memiliki potensi menularkan virus H5N1. Cara yang dianggap lebih efektif adalah dengan mengubur bangkai ternak tersebut dalam-dalam.
Media lain untuk menularkan penyakit flu burung ini adalah lingkungan sekitar. Jika Anda tinggal di sekitar kandang ternak unggas, atau memiliki burung peliharaan yang tiba-tiba mati, waspadalah. Udara sekitar kandang sangat mengandung berbagai material yang ada dalam kotoran ternak. Jika unggas terjangkit virus H5N1, bisa dipastikan bahwa udara sekitar sudah mengandung virus flu burung tersebut. Udara dan peralatan yang tercemar kotoran ternak unggas akan menjadi media perantara penularan virus H5N1 yang sangat baik.
Penularan flu burung juga dapat terjadi dengan perantara manusia. Akan tetapi, disinyalir penularan lewat manusia merupakan media yang sangat tidak efektif. Kasus penularan lewat manusia sangat jarang terjadi. Virus H5N1 berbeda karakter dengan virus H1N1 penyebab flu babi yang sangat efektif ditularkan lewat manusia. Meski begitu, tetaplah waspada jika Anda berada didekat pasien flu burung.
Cara lain penularan flu burung adalah melewati produk dari ternak unggas. Sebagian orang memilih mengkonsumsi produk unggas mentah atau tidak dimasak sempurna. Fillet ayam, telur mentah dan beragam produk mentah unggas dapat menjadi media menularkan virus H5N1 pada pengkonsumsinya. Virus flu burung ini akan mati apabila produk unggas tersebut dimasak secara sempurna (benar-benar matang).Mengkonsumsi daging setengah matang dan telur setengah matang masih berpeluang terjangkit virus flu burung ini jika unggas yang dipotong sudah terjangkiti oleh virus ini. Untuk itu, jika Anda akan mengkonsumsi unggas yang berasal dari daerah yang dicurigai terjangkiti virus H5N1, pastikan daging atau telur unggas tersebut dimasak hingga benar-benar matang hingga aman untuk dikonsumsi.

GEJALA KLINIS - Manusia
Gejala-gejala awal flu burung seringkali sama dengan influenza musiman manusia (batuk, sakit tenggorokan, demam tinggi, sakit kepala, sakit otot, etc). Penyakit ini dapat berkembang menjadi pneumonia dimana mungkin akan terjadi, kekurangan angin, susah bernafas dan gagal pernafasan. Apabila anda merasa telah terpapar dengan flu burung dan anda mulai menunjukkan gejala-gejala menyerupai influenza, segeralah cari perhatian medis. Sumber: WHO

Gejala Klinis – Burung
Gejala klinis (Tanda-tanda kesehatan) penyakit ini sangat beragam dan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tingkat keganasan  (virulensi) virus yang menginfeksi, spesies yang tertular, umur, jenis kelamin, penyakit lain yang menyertainya dan lingkungan.

Pada tipe (jenis ) AI yang virulen (sangat patogen) yang biasanya dikaitkan dengan “fowl plaque’ (sampar unggas), penyakitnya muncul secara tiba-tiba pada sekelompok unggas dan mengakibatkan banyak unggas mati baik tanpa disertai oleh adanya tanda-tanda awal atau hanya ditandai oleh gejala klinis yang minimal seperti  depresi, kurang selera makan (hilangnya nafsu makan), bulu kusam dan berdiri serta demam. Unggas lainnya terlihat lemas dan berjalan sempoyongan. Ayam betina mula-mula akan menghasilkan telur dengan cangkang (kulit telur) lunak, namun kemudian akan segera berhenti bertelur. Unggas yang sakit seringkali terlihat duduk atau berdiri dalam keadaan hampir tidak sadarkan diri dengan kepala menyentuh tanah. Jengger dan pialnya terlihat berwarna biru gelap (cyanotic) dan bengkak (oedematous) serta mungkin menunjukkan adanya bintik-bintik pendarahan di ujungnya. Diare cair yang parah seringkali terjadi dan unggas terlihat sangat haus. Pernapasan terlihat berat (sesak napas). Bintik-bintik perdarahan sering ditemukan pada kulit yang tidak ditumbuhi bulu. Tingkat kematiannya berkisar antara 50 sampai 100%.

Pada ayam potong, gejala penyakitnya seringkali tidak begitu jelas, yang mula-mula ditandai oleh depresi parah, berkurangnya nafsu makan, dan peningkatan jumlah kematian yang nyata. Kebengkakan (oedema) pada wajah dan leher serta berbagai gejala gangguan saraf seperti leher berputar (torticollis) dan gerakan yang tidak terkoordinasi (ataxia) juga mungkin terlihat. Gejala yang tampak pada kalkun mirip dengan gejala yang terlihat pada ayam petelur, namun penyakitnya berlangsung 2 atau 3 hari lebih lama dan kadang-kadang disertai oleh pembengkakan pada sinus hidung. Pada itik peliharaan dan angsa gejala depresi, kurang nafsu makan dan diarenya mirip dengan gejala pada ayam petelur meskipun seringkali disertai dengan pembengkakan pada sinus hidung. Unggas-unggas muda bisa menunjukkan gejala-gejala gangguan saraf
Ketika wabah flu burung merebak, kepanikan massal terjadi. Tingkat pengetahuan massa yang rendah terhadap jenis flu ini membuat banyak orang bereaksi ekstrim. Tanpa pikir panjang, ratusan ribu unggas dimusnahkan, tanpa peduli benar atau tidaknya langkah itu. Ada baiknya kita mengenal beragam sub tipe dari flu burung ini. Ada banyak sub tipe dari flu ini namun hanya beberapa yang bersifat sangat patogenic terhadap manusia.

Ada banyak sub tipe dari virus flu ini.
Tipe H1N1. Sub tipe ini lebih banyak ditemukan di babi sebagai vektor utamanya. Di kemudian hari, virus tipe ini lebih dikenal sebagai penyebab flu babi. Berbeda dengan penyebab flu unggas, sub tipe ini justru lebih efektif ditularkan lewat manusia. Dalam setiap bersin pasien flu babi, setidaknya terkandung 100.000 virus H1N1. Untungnya, daya bunuh H1N1 hanya seperduabelas dari flu burung. Flu babi hanya memiliki kemungkinan fatal sebesar 6 persen, jauh di bawah angka 80 persen mili flu unggas.
H1N2 adalah sub tipe berikutnya. Sub tipe ini merupakan subtipe dari virus influenza A yang juga disebut virus flu burung. Oleh para ahli, virus ini dinyatakan sebagai virus pandemik pada manusia dan hewan, khususnya babi.
H2N2 adalah sub tipe yang lainnya. Virus H2N2 ini sudah termutasi menjadi banyak sekali variasi virus flu ini. Salah satu bentuk mutasi dari H2N2 adalah H3N2 dan banyak lagi subtipe virus flu lainnya yang sering ditemukan pada unggas. Virus model ini dicurigai sebagai penyebab pandemik pada manusia di tahun 1889.
Sub tipe berikutnya adalah H2N3. Berdasarkan struktur penyusunnya, H2N3 terdiri atas proteins sebagai “casing”nya, hemagglutinin (H) dan neuraminidase (N). Pada umumnya, virus ini dapat menginfeksi manusia dan unggas.
Sub tipe berikutnya adalah sub tipe virus Avian Influenza yang paling berbahaya. Dikenal sebagai penyebab utama flu unggas. H5N1 adalah virus yang sangat berbahaya. Berdasarkan penelitian para ahli, pasien yang terjangkiti virus H5N1 hanya memiliki kemungkinan sembuh kurang dari 20 persen. Meskipun hanya ditularkan lewat unggas, H5N1 merupakan pembunuh yang efektif. Daya bunuhnya 12 kali lebih dahsyat dibanding sub tipe virus avian influenza yang lain. Virus ini merupakan jenis virus yang bersifat epizootik atau bersifat epidemik untuk golongan di luar manusia dan juga bersifat panzootik yang mampu mempengaruhi beragam spesies hewan. Hasil penelitian menyebutkan bahwa virus ini sudah “sukses” membunuh setidaknya 10 juta unggas di seluruh dunia serta menginfeksi ratusan juta lainnya. Pada bulan Desember tahun 2009, badan kesehatan dunia, WHO mengumumkan bahwa setidaknya terjadi 447 kasus flu yang terjadi pada manusia dan tingkat kematian pada periode ini sangat tinggi, lebih dari 50 persen dengan angka kematian mencapai 267 orang.
Sub tipe lain yang dianggap patogenik untuk manusia adalah H7N3, H7N7 dan H9N2. Ketiga jenis ini dianggap sebagai virus avian influenza yang memiliki daya rusak tingga hingga dapat membunuh pengidapnya. Menurut update terbaru dari FAO, virus-virus ini secara perlahan tapi pasti memperkuat kemampuan merusak mereka. Untuk virus H7N7 sendiri bisa menginfeksi manusia, burung, babi, anjing laut serta kuda. Pada uji laboratorium, virus ini bisa mengifeksi tikus yang digunakan dalan percobaan. Virus H9N2 merupakan jenis virus yang menginfeksi bebek. Pada perkembangannya, virus ini juga menginfeksi manusia. Pada Desember 2009, ditemukan kasus anak-anak terinfeksi H9N2 di Hongkong
Kasus penyebaran

Pada 21 Juli 2005, tiga kasus fatal terjadi di Tangerang, Indonesia, yang disebabkan oleh flu burung subtipe H5N1. Berbeda dengan kasus lainnya di Asia Tenggara (Thailand, Kamboja, dan Vietnam), kasus ini dianggap unik karena korban tidak banyak berhubungan dengan unggas.

Hingga 6 Juni 2007, WHO telah mencatat sebanyak 310 kasus dengan 189 kematian pada manusia yang disebabkan virus ini dengan rincian sebagai berikut (lihat sumber):
 Indonesia — 99 kasus dengan 79 kematian.
 Vietnam — 93 kasus dengan 42 kematian.
 Mesir — 34 kasus dengan 14 kematian.
 Thailand — 25 kasus dengan 17 kematian.
 Cina — 25 kasus dengan 16 kematian.
 Turki — 12 kasus dengan 4 kematian.
 Azerbaijan — 8 kasus dengan 5 kematian.
 Kamboja — 7 kasus dengan 7 kematian.
 Irak — 3 kasus dengan 2 kematian.
 Laos — 2 kasus dengan 2 kematian.
 Nigeria — 1 kasus dengan 1 kematian.
 Djibouti — 1 kasus tanpa kematian.

Keterangan: jumlah kasus yang dilaporkan WHO adalah jumlah kasus yang telah diverifikasi dengan hasil laboratorium.


Template by:

Free Blog Templates