Rabu, 21 November 2012

Timbal




A. Pengertian Timbal
            Timbal (plumbum /Pb ) atau timah hitam adalah satu unsur logam berat yang lebih tersebar luas dibanding kebanyakan logam toksik lainnya. Kadarnya dalam lingkungan meningkat karena penambangan, peleburan dan berbagai penggunaannya dalam industri. Timbal berupa serbuk berwarna abu-abu gelap digunakan antara lain sebagai bahan produksi baterai dan amunisi, komponen pembuatan cat, pabrik tetraethyl lead, pelindung radiasi, lapisan pipa, pembungkus kabel, gelas keramik, barang-barang elektronik, tube atau container, juga dalam proses mematri.            Keracunan dapat berasal dari timbal dalam mainan, debu ditempat latihan menembak, pipa ledeng, pigmen pada cat, abu dan asap dari pembakaran kayu yang dicat, limbah tukang emas, industri rumah, baterai dan percetakan.
            Makanan dan minuman yang bersifat asam seperti air tomat, air buah apel dan asinan dapat melarutkan timbal yang terdapat pada lapisan mangkuk dan panci. Sehingga makanan atau minuman yang terkontaminasi ini dapat menimbulkan keracunan. Bagi kebanyakan orang, sumber utama asupan Pb adalah makanan yang biasanya menyumbang 100 – 300 ug per hari. Timbal dapat masuk kedalam tubuh manusia melalui pernafasan, pemaparan maupun saluran pencernaan. Lebih kurang 90 % partikel timbale dalam asap atau debu halus di udara dihisap melalui saluran pernafasan. Penyerapan di usus mencapai 5 – 15 % pada orang dewasa. Pada anakanak lebih tinggi yaitu 40 % dan akan menjadi lebih tinggi lagi apabila si anak
kekurangan kalsium, zat besi dan zinc dalam tubuhnya.
            Laporan yang dikeluarkan Poison Center Amerika Serikat menyatakan anak-anak merupakan korban utama ketoksikan timbal; dengan 49 % dari kasus yang
dilaporkan terjadi pada anak-anak berusia kurang dari 6 tahun. Yang lebih menghawatirkan adalah efeknya terhadap kecerdasan (IQ) anak – anak, sehingga menurunkan prestasi belajar mereka, walaupun kadar timbal di dalam darah mereka tidak dianggap toksik.
            Timbal (Plumbum) beracun baik dalam bentuk logam maupun garamnya.
Garamnya yang beracun adalah : timbal karbonat ( timbal putih ); timbale tetraoksida ( timbal merah ); timbal monoksida; timbal sulfida; timbale asetat ( merupakan penyebab keracunan yang paling sering terjadi ). Ada beberapa bentuk keracunan timbal, yaitu keracunan akut, subakut dan kronis. Nilai ambang toksisitas timbal ( total limit values atau TLV ) adalah 0,2 miligram/m3 .

B.     Keracunan akut
            Keracunan timbal akut jarang terjadi. Keracunan timbal akut secara tidak sengaja yang pernah terjadi adalah karena timbal asetat. Gejala keracunan akut mulai timbul 30 menit setelah meminum racun. Berat ringannya gejala yang timbul tergantung pada dosisnya. Keracunan biasanya terjadi karena masuknya senyawa timbal yang larut dalam asam atau inhalasi uap timbal. Efek adstringen menimbulkan rasa haus dan rasa logam disertai rasa terbakar pada mulut. Gejala lain yang sering muncul ialah mual, muntah dengan muntahan yang berwarna putih seperti susu karena Pb Chlorida dan rasa sakit perut yang hebat. Lidah berlapis dan nafas mengeluarkan bau yang menyengat. Pada gusi terdapat garis biru yang merupakan hasil dekomposisi protein karena bereaksi dengan gas Hidrogn Sulfida. Tinja penderita berwarna hitam karena mengandung Pb Sulfida, dapat disertai diare atau
konstipasi. Sistem syaraf pusat juga dipengaruhi, dapat ditemukan gejala ringan berupa kebas dan vertigo. Gejala yang berat mencakup paralisis beberapa kelompok otot sehingga menyebabkan pergelangan tangan terkulai ( wrist drop ) dan pergelangan kaki terkulai (foot drop).

C.    Keracunan subakut
            Keracunan sub akut terjadi bila seseorang berulang kali terpapar racun dalam dosis kecil, misalnya timbal asetat yang menyebabkan gejala-gejala pada sistem syaraf yang lebih menonjol, seperti rasa kebas, kaku otot, vertigo dan paralisis flaksid pada tungkai. Keadaan ini kemudian akan diikuti dengan kejang-kejang dan koma. Gejala umum meliputi penampilan yang gelisah, lemas dan depresi. Penderita sering mengalami gangguan sistem pencernaan, pengeluaran urin sangat sedikit, berwarna merah. Dosis fatal : 20 - 30 gram. Periode fatal : 1-3 hari.

D.    Keracunan Kronis
            Keracunan timbal dalam bentuk kronis lebih sering terjadi dibandingkan keracunan akut. Keracunan timbal kronis lebih sering dialami para pekerja yang terpapar timbal dalam bentuk garam pada berbagai industri, karena itu keracunan ini dianggap sebagai penyakit industri. seperti penyusun huruf pada percetakan, pengatur komposisi media cetak, pembuat huruf mesin cetak, pabrik cat yang menggunakan timbal, petugas pemasang pipa gas. Bahaya dan resiko pekerjaan itu ditandai dengan TLV 0,15 mikrogram/m3 atau 0,007 mikrogram/m3 bila sebagai aerosol. Keracunan kronis juga dapat terjadi pada orang yang minum air yang dialirkan melalui pipa timbal, juga pada orang yang mempunyai kebiasaan menyimpan Ghee (sejenis makanan di India) dalam bungkusan timbal. Keracunan kronis dapat mempengaruhi system syaraf dan ginjal, sehingga menyebabkan anemia dan kolik, mempengaruhi fertilitas, menghambat pertumbuhan janin atau memberikan efek kumulatif yang dapat muncul kemudian.

E.     Gejala gejala
            Secara umum gejala keracunan timbal terlihat pada system pencernaan berupa muntah – muntah, nyeri kolik abdomen, rasa logam dan garis biru pada gusi, konstipasi kronis. Pada sistem syaraf pusat berupa kelumpuhan ( wrist drop, foot drop, biasanya terdapat pada pria dewasa). Sistem sensoris hanya sedikit mengalami gangguan, sedangkan ensefalopati sering ditemukan pada anak-anak. Gejala keracunan ini pada sistem jantung dan peredaran darah berupa anemia, basofilia pungtata, retikulosis, berkurangnya trombosit dan sel polimorfonuklear, hipertensi dan nefritis, artralgia ( rasa nyeri pada sendi ). Gejala pada bagian kandungan dan kebidanan berupa gangguan menstruasi, bahkan dapat terjadi abortus. Diagnosis dapat dilakukan melalui pemeriksaan urine (jumlah koproporfirin III meningkat ). Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan yang paling dianjurkan sebagai screening test pada keracunan timbal. Kadar timbal dalam urin juga bisa membantu menegakkan diagnosis, ketika kadarnya diatas 0,2 mikrogram /liter, dianggap sudah cukup bermakna untukdiagnosis keracunan timbal. Pemeriksaan sinar-x pada anak-anak untuk melihat garis yang radio-opak pada metafisis tulang-tulang panjang bisa digunakan untuk menegakkan diagnosis keracunan timbal.

F.     Pertolongan pertama
            Jika menemukan gejala-gejala keracunan timbal, masyarakat dapat memberi pertolongan pertama untuk sedapat mungkin menekan risiko dan dampaknya pada penderita. Untuk keracunan akut melalui saluran pencernaan misalnya, pasien sebaiknya segera dipindahkan agar tidak terpapar lagi dengan timbal. Bilas mulutnya dan berikan rangsangan untuk muntah ( untuk penderita yang sadar). Rujuklah segera ke bagian perawatan medis.
            Kasus-kasus keracunan kronis dapat ditekan dengan berbagai cara dengan merujuk factor-faktor yang memungkinkan terjadinya keracunan tersebut. Misalnya, mengurangi kadar timbal dalam bensin untuk mengurangi pemaparan timbal melalui pernafasan. Dengan demikian dapat diharapkan terjadi penurunan kadar timbal dalam darah manusia. Keracunan yang biasa terjadi karena tumpahan timbal di lingkungan
industri – industri besar dapat dihindari dengan membersihkan tumpahan dengan hati-hati ( untuk tumpahan sedikit), atau dilakukan secara landfills (untuk tumpahan yang banyak ).




Kepustakaan :
1. Homan CS, Brogan GX, Lead Toxicity, in : Viccellio P, (Editor ).
Handbook of Medical Toxicology, First edition, Little, Brown and Co.
Boston. 1993, 271 - 284..
2. DR.P.V Chadha, Timbal, Ilmu Forensik dan Toksikologi. Edisi 5, Penerbit
Widya Medika, Jakarta, 1995, 268 - 272.
3. Hendry Matthew MD , Treatment of Common Acute Poisoning , 4th
edition, Churchill Livingstone, Edinburgh, 1979, 152 – 153

Mangan




A.           Pengertian Mangan (Mn)
Mangan adalah suatu logam rapuh berwarna kelabu keputihan yang terdapat dalam delapan bentuk oksida. MnO2 adalah bentuk yang paling stabil, diantara senyawa-senyawa logam organik, mangan 2-metil siklopentadienil trikarbonil (MMT) dan mangan siklopentadienil trikarbonil (CMT) adalah yang paling penting. Mangan tidak larut dalam air. Bentuk yang terpenting adalah oksida, karbonat dan silikat mangan. Yang paling umum mangan dioksidasi (pirolusit) yang biasanya ditambang dengan teknik terbuka.
B.            Kegunaan Mangan (Mn)
Sembilan puluh persen dari seluruh Mn di dunia digunakan dalam industri baja sebagai reagen untuk mereduksi oksigen dan sulfur. Mn juga digunakan pada produksi baterai sel kering dan produksi kalium permanganat serta senyawa-senyawa lainnya, sebagai pelapis elektroda batang-bantang las, senyawa-senyawa Mn ttt digunakan sebagai pengering unutk minyak rami, pengelantang kaca dan tekstil, pewarna, penyamak kulit dan pembuatan pupuk. Senyawa-senyawa karbonil organik Mn digunakan sebagai bahan aditif minyak, bahan bakar, inhibitor asap, dan aditif antiknock dalam bahan bakar.
C.           Ketepaparan Mangan (Mn)
Paparan jangka panjang menyebabkan kerusakan sistem saraf pusat dan paru-paru. Efek terhadap system saraf pusat (manganisme) ditandai dengan adanya gangguan kapasitas mental, terlihat pada paparan ≥ 2 tahun, sedangkan efek pada paru yaitu pneumonia dan bronchitis akut maupun kronis terutama pada perokok yang terpapar, efek lain yaitu penurunan tekanan darah, disproteinemia dan gangguan reproduktif. Orang – orang yang beresiko terpapar Mn adalah
·      Para penambang Mn
·        Pekerja industri feromangan, besi dan baja
·        Dan pekerja yang terlibat dalam pembuatan baterai sel kering serta batang las.
D.           Sumber-sumber Mangan (Mn)
Mangan terdapat dalam tanah berbentuk senyawa oksida, karbonat dan silikat dengan nama pyrolusit (MnO2), manganit (MnO(OH)), rhodochrosit (MnCO3) dan rhodoinit (MnSiO3). Mn umumnya terdapat dalam batuan primer, terutama dalam bahan ferro magnesium. Mn dilepaskan dari batuan karena proses pelapukan batuan. Hasil pelapukan batuan adalah mineral sekunder terutama pyrolusit (MnO2) dan manganit (MnO(OH)). Kadar Mn dalam tanah berkisar antara 20 sampai 3000 ppm. Bentuk Mn dapat berupa kation Mn++ atau mangan oksida, baik bervalensi dua maupun valensi empat. Penggenangan dan pengeringan yang berarti reduksi dan oksidasi pada tanah berpengaruh terhadap valensi Mn.
Sumber-sumber Mangan adalah:
a.         Batuan mineral Pyroluste Mn O2
b.        Batuan mineral Rhodonite Mn SiO3
c.         Batuan mineral Rhodochrosit Mn CO3
d.        Sisa-sisa tanaman dan lain-lain bahan organis (Yuni, 2009)
Kebanyakan senyawa mangan saat ini ditemukan di Rusia, Brazil, Australia, Afrika Selatan, Gabon, dan India. Irolusi dan rhodokhrosit adalah mineral mangan yang paling banyak dijumpai. Logam ,mangan diperoleh dengan mereduksi oksida mangan dengan natrium, magnesium, aluminum atau dengan proses elektrolisis.
Dalam makanan, Mn terdapat pada bayam, teh dan berbagai jenis herbal. Kadar Mn tinggi terdapat pada biji-bijian, kedelai, telur, kacang-kacangan, sayuran daun hijau, beras, oats, daging warna merah, legum, kecambah, buah, beberapa jenis rempah-rempah, nanas, blackberry, rashberry, anggur, dan strawberry.
Makanan yang mengandung mangan rendah adalah biji-bijian yang disosoh dan susu. Terdapat perbedaan kadar Mn pada makanan orang Indian, yakni sebesar 8,3 mg/hari, dengan makanan di rumah sakit USA, yakni sebesar 0,36-1,78 mg/hari.
Analisis sampel Yeast culture produksi USA (Diamond V) mengandung protein, lemak dasar, serat kasar, vitamin, dan berbagai mineral, antara lain Mn sebesar 25 mg/Lb.
E.            Sifat-sifat Mangan (Mn)
Mangan berwarna putih keabu-abuan, dengan sifat yang keras tapi rapuh. Mangan sangat reaktif secara kimiawi, dan terurai dengan air dingin perlahan-lahan. Mangan digunakan untuk membentuk banyak alloy yang penting. Dalam baja, mangan meningkatkan kualitas tempaan baik dari segi kekuatan, kekerasan, dan  kemampuan pengerasan. Dengan aluminum dan bismut, khususnya dengan sejumlah kecil tembaga, membentuk alloy yang bersifat ferromagnetik.
Logam mangan bersifat ferromagnetik setelah diberi perlakuan. Logam murninya terdapat sebagai bentuk allotropik dengan empat jenis. Salah satunya,  jenis alfa, stabil pada suhu luar biasa tinggi; sedangkan mangan jenis  gamma, yang berubah menjadi alfa pada suhu tinggi, dikatakan fleksibel, mudah dipotong dan ditempa.

§     Sifat Kimia dari Mangan (III)
Senyawa biner oksida merupakan senyawa terpenting, mangan (III) oksida merupakan hasil akhir dari oksidasi Mn atau MnO pada 470 – 6000C membentuk Mn2O3.
Mangan(III) flourida dibuat dengan flourinasi dari MnCl2 atau senyawa lain dan membentuk padatan merah anggur yang secara serta merta terhidrolisis oleh air.  
§   Sifat Kimia Mangan (IV)
Senyawa biner, senyawa biner terpenting mangan dioksida yang merupakan padatan berwarna abu-abu sampai hitam yang di alam terdapat sebagai bijih pyrolusite
Tetraflourida MnF4, didapat melalui interaksi langsung merupakan padatan biru yang tidak stabil secara lambat terdekomposisi menjadi MnF3 dan F2. 
§     Sifat Kimia Mangan (VI-VII)
Mangan (VI) yang dikenal sebagai ion manganat MnO42- yang berwarna hijau. Ion ini dibentuk pada oksidasi MnO2 dalam lelehan KOH dengan KNO3, udara atau zat pengoksidasi lain atau melalui penguapan KMnO4 dan larutan KOH.
F.            Absorpsi, Distribusi dan Ekskresi  Mangan (Mn)
Pada beberapa spesies, termasuk manusia, tingkat absorpsi Mn ditentukan oleh status Mn dalam tubuh dan kandungan Mn dalam makanan. Absorpsi Mn oleh alat pencernaan makanan kurang dari 5%. Mn ditransformasikan dalam plasma berikatan dengan B1-golbulin menjadi tranferin dan akhirnya terdistribusikan ke seluruh tubuh. Kadar Mn dalam tubuh manusia berbobot 70 kg adalah sebesar 12-16 mg, tingkat absorpsi Mn sebesar 3-4 % dari makanan, dan kadar Mn dalam plasma sebesar 1-2 mikrogram/dL. Efisiensi absorpsi akan menurun dari 1,5 menjadi 100 mikrogram/gram, yang menunjukkan penggunaan absorpsi Mn untuk menjaga keseimbangan tubuh ditentukan oleh kadar Mn dalam makanan.  Homeostatis Mn berkaitan dengan besarnya ekskresi Mn dan kadar Mn dalam makanan.
Pada penderita defisiensi Fe, absorpsi Mn mengalami peningkatan. Fe dan Ca mampu menghambat absorpsi Mn. Mn ditransformasikan oleh protein transmanganin dalam  plasma. Setelah diabsorpsi, dalam waktu singkat Mn berada di empedu dan diekskresikan lewat feses. Serat kasar memberikan pengaruh besar atas ketersediaan Mn.
Setelah Mn diabsorpsi, lalu ditransportasikan melalui darah, Mn akan terkonsentrasi dalam mitokondria sehingga jaringan yang kaya akan organel akan menyimpan Mn dalam jumlah besar seperti kelenjar endokrin, pankreas, hati, ginjal, usus, dan tulang. Waktu paruh Mn dalam tubuh adalah 37 hari, Mn siap melintasi barier darah-otak dengan waktu paruh Mn lebih lama dibandingkan di bagian tubuh lain. Ditemukan pula Mn di ganglia basal dan otak kecil.
Mn tereliminasi menuju empedu, lalu diabsorpsi lagi dalam usus dan akhirnya dibuang lewat feses. Mn diekskresiskan lewat feses melalui empedu dan mungkin akan di absorpsi kembali sebagai Mn yang diikat pada empedu. Setiap atom Mn bisa bersirkulasi beberapa kali sebelum diekskresikan. Sistem pencernaan termasuk hati, kelenjar pencernaan, dan kelenjar adrenalin merupakan mekanisme untuk mengekskresikan kelebihan Mn.
G.           Efek Toksik
Mn dalam dosis tinggi bersifat toksik. Paparan Mn dalam debu atau asap maupun gas tidak boleh melebihi 5 mg/m3 karena dalam waktu singkat hal itu akan meningkatkan toksisitas. Hasil uji coba menunjukkan bahwa paparan Mn lewat inhalansi pada hewan uji tikus bisa mengakibatkan toksisitas pada system syaraf pusat. Paparan per oral Mn menunjukkan toksisitas yang rendah dibandingkan mikro unsur lain sehingga sangat sedikit dilaporkan kasus toksisitas Mn per oral pada manusia.
Toksisitas paparan kronis biasanya terjadi melalui inhalasi di daerah penambangan, peleburan logam dan industri yang membuang limbah Mn. Toksisitas kronis paparan lewat inhalasi Mn-dioksida dengan waktu paparan lebih dari 2 tahun bisa menyebabkan gangguan system syaraf.  Toksisitas kronis menunjukan gejala gangguan kejiwaan, gangguan iritabilitas, sulit berjalan, gangguan berbicara, kompulsif sikap berlari, bernyanyi, bertengkar dan berlanjut dengan menunjukan gejala maslike face, retropulsi dan propulsi serta menunjukkan gejala mirip Parkinson. Serta gangguan system syaraf pusat, sirosis hati, kelelahan, ketiduran, gangguan emosi, kaki kaku dank ram, paralisis, jalan sempoyongan, pneumonia, dan infeksi saluran pernafasan bagian atas.
Pria yang dalam jangka waktu lama terpapar Mn dapat mengakibatkan impoten, skisofrenia, dullness, otot lemah, sakit kepala dan insomsia. Paparan lewat inhalasi pada umumnya berupa senyawa Mn-dioksida yang berasal dari penambangan dan industri yang menggunakan bahan Mn. Pekerja di lingkungan industri yang menghasilkan debu Mn serta paparan akut akan menunjukkan gejala berupa pneumonitis. Pekerja di lingkungan industri dengan kadar debu Mn tinggi menunjukkan terserang penyakit saluran pernapasan 30 kali lebih besar dibandingkan penduduk yang tidak kontak dengan debu Mn. Terjadi nekrosis epitel dan proliferasi saluran pernapasan.
Paparan dosis tinggi dalam waktu singkat menunjukkan gejala berupa kegemukan, glukose intoleransi, penggumpalan darah, gangguan kulit, gangguan skeleton, menurunnya kadar kolesterol, mengakibatkan cacat lahir, perubahan warna rambut, gangguan system syaraf, gangguan jantung, hati dan pembuluh vaskuler, menurunnya tekanan darah, mengakibatkan cacat pada fetus, kerusakan otak, serta iritasi alat pencernaan.
Paparan Mn lewat kulit bisa mengakibakan tremor, kegagalan koordinasi dan dapat mengakibatkan munculnya tumor.
H.           Penanganan Toksisitas
Pemberian L-dopa kepada penderita toksisitas kronis Mn dengan gejala mirip Parkinson lebih efektif dibandingkan pemberian L-dopa kepada penderita Parkinson. Berdasarkan hasil penelitian, pemberian L-dopa pada hewan uji yang diberi Mn secara inhalasi maupun intraperitonial menunjukkan hasil yang baik dan dapat mengurangi gejala Parkinson. Hewan uji kera yang diberi Mn secara intraperitonia, lalu diberi dopamin dan serotonin yang menunjukkan gejala berkurangnya toksisitas Mn (Klassen et al.,1986)
2.9.   Contoh Kasus Keracunan Mangan
BEIJING. Setidaknya 1.354 anak di Cina keracunan akibat polusi yang berasal dari pabrik peleburan mangan. Menurut berita yang dilansir kantor berita Cina, Xinhua, kemarin, anak-anak itu diketahui keracunan setelah ratusan di antaranya jatuh sakit.
Peristiwa ini terjadi di Provinsi Hunan Ifengah. Di wilayah ini terdapat pabrik peleburan mangan yang berlokasi di Kota Weping. Pabrik yang bernama Wugang ini dibuka pada Mei 2008, dan lokasinya hanya 500 meter dari sekolah dasar, sekolah menengah, serta taman kanak-kanak.
Kecurigaan bahwa anak-anak yang tinggal di sekitar pabrik keracunan muncul awal Juli lalu, tepatnya ketika banyak anak tiba-tiba merasa kedinginan, demam, dan penyakit lainnya. Setelah diperiksa, tulis Xinhua, ternyata darah pada 70 persen dari 1.354 anak yang sudah diperiksa mengandung timah hitam yang berlebihan. Keracunan timah hitam selama ini diketahui dapat menyebabkan kerusakan pada sistem reproduksi, menimbulkan tekanan darah tinggi, dan kehilangan ingatan.
Akibat kasus ini, pemerintah Hunan pekan lalu menutup pabrik itu. Selain telah menimbulkan masalah, pabrik ini ternyata dibangun tanpa persetujuan biro perlindungan lingkungan pemerintah setempat. Kemarin pemerintah juga menahan dua eksekutif pabrik tersebut. Menurut Xinhua, keduanya ditahan karena menjadi tersangka penyebab polusi lingkungan.
"Orang-orang sangat marah mengetahui hasil pemeriksaan," kata Li Liangmei, 36 tahun, yang dua anaknya, 13 tahun dan 8 tahun, juga menjadi korban. Begitu berita keracunan ini tersebar, kata Liangmei, pada 8 Agustus lalu terjadi kerusuhan setelan 700 warga yang marah menggulingkan empat mobil polisi dan merusak sebuah rambu pemerintah setempat.
Peristiwa ini semakin menambah panjang deret skandal keselamatan publik yang berujung pada bentrokan di Cina akhir-akhir ini. Sebelumnya, awal pekan ini, warga Desa Shaanxi, wilayah pedesaan lainnya di Cina tengah, bentrok dengan polisi setelah mereka memprotes pengoperasian pabrik peleburan timah hitam dan seng di Kota Changqing. Kerusuhan terjadi setelah 731 anak di dua desa sekitar pabrik keracunan timah hitam.




Template by:

Free Blog Templates